Waket Komisi III DPRD Bartim Soroti Insiden Berdarah di PT ABB, Minta Audit dan Investigasi Independen

www.sinarrakyat.com, BARITO TIMUR – Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Barito Timur (Bartim), Raffy Hidayatullah, SH angkat bicara terkait insiden bentrokan antara masyarakat dan aparat penegak hukum di area PT Asmin Bara Bronang (ABB) yang menyebabkan korban luka, bahkan warga sipil dilaporkan tertembak.
Raffy mengecam keras pihak perusahaan yang diduga menjadi pemicu terjadinya konflik hingga berujung pada insiden berdarah tersebut. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi baru-baru ini.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pemuda Dayak (Fordayak) Barito Timur itu mengatakan, peristiwa tersebut seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak, terutama perusahaan yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan dengan masyarakat secara baik.
“Sebagai bagian dari keluarga yang terdampak langsung oleh insiden ini, hati saya sangat teriris. Namun sebagai wakil rakyat, saya harus melihat persoalan ini secara jernih. Akar masalahnya bukan pada aparat atau warga, melainkan pada ketidakmampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajibannya secara bermartabat,” ujar Raffy kepada awak media, Kamis (5/3/2026).
Ia pun mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap PT ABB. Menurutnya, audit tersebut tidak hanya menyangkut keuangan perusahaan, tetapi juga terkait dampak sosial serta kepatuhan perusahaan terhadap hak-hak masyarakat adat.
“Perusahaan yang gagal memenuhi standar kemanusiaan harus diberikan sanksi administratif hingga pencabutan izin operasional,” tegasnya.
Untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi Polri, Raffy juga mengusulkan pembentukan Tim Investigasi Independen yang melibatkan berbagai unsur, seperti Komnas HAM, tokoh adat Dayak, serta komisi terkait di DPRD.
“Ini penting agar duduk perkara penembakan ini benar-benar terang benderang dan keadilan bagi keluarga korban bisa terpenuhi,” katanya.
Menurut Raffy, Polri merupakan mitra strategis Fordayak dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Namun ia mengingatkan agar aparat di lapangan tidak terjebak dalam konflik yang muncul akibat ketidakterbukaan perusahaan dalam menyelesaikan persoalan dengan masyarakat.
“Kami berharap Polri tetap berdiri di tengah sebagai pelindung rakyat, bukan sekadar penjaga aset korporasi yang bermasalah secara sosial. PT ABB dan seluruh investor di Kalimantan Tengah, khususnya di Barito Timur, harus sadar bahwa investasi tidak lebih berharga daripada nyawa manusia,” ujarnya.
Ia juga menegaskan agar pendekatan keamanan tidak dijadikan cara untuk menutupi kelalaian perusahaan dalam memenuhi hak adat maupun hak lahan masyarakat.
“Darah yang tumpah adalah bukti kegagalan manajemen perusahaan dalam membangun dialog dengan masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Raffy juga menyampaikan pesan kepada seluruh investor yang beroperasi di Barito Timur agar mampu menyelesaikan persoalan dengan masyarakat melalui dialog dan musyawarah.
“Saya ingatkan kepada seluruh pimpinan perusahaan di wilayah kami, selesaikan masalah di meja runding. Jangan biarkan persoalan membesar hingga mengadu domba warga dengan aparat. Jika perusahaan tidak mampu berinvestasi secara damai, maka kehadiran mereka perlu kita evaluasi secara total,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penerapan protokol mediasi berbasis adat dalam penyelesaian konflik lahan.
“Setiap perusahaan di Barito Timur wajib memiliki protokol mediasi berbasis adat. Persoalan lahan harus diselesaikan melalui kearifan lokal dengan melibatkan tokoh adat dan pemerintah desa terlebih dahulu,” tuturnya.
Atas nama Fordayak Barito Timur, Raffy menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas insiden tersebut dan berharap tidak ada lagi pertumpahan darah di wilayah Bartim.
“Kami tidak ingin melihat darah tumpah di tanah kami sendiri, baik dari warga maupun aparat. Keduanya adalah saudara kita yang menjalankan perannya masing-masing. Fokus kita bukan pada benturannya, tetapi pada akar masalahnya, yaitu sengketa yang tidak kunjung selesai antara perusahaan dan masyarakat. Hentikan kekerasan di PT ABB. Nyawa bukan untuk taruhan investasi,” pungkasnya. (S.R)



